Saturday, May 30, 2026
spot_img

Menolak Lupa Akar Bangsa: Wahyudie F. Dirun Ajak Masyarakat Jadikan Pancasila “Kompas” Menghadapi Era Digital

Momentum Hari Kebangkitan Nasional yang jatuh pada hari ini menjadi alarm pengingat bagi seluruh elemen bangsa untuk kembali menengok fondasi dasar bernegara. Di tengah gempuran arus globalisasi dan polarisasi digital yang kian tajam, eksistensi Pancasila sebagai ideologi negara tidak boleh sekadar menjadi pajangan teks sejarah, melainkan harus hidup dalam tindakan sehari-hari.

Hal tersebut ditegaskan oleh tokoh intelektual dan birokrat Kalimantan Tengah, Dr. H. M. Wahyudie F. Dirun, S.P., M.M. Menurutnya, tantangan terbesar generasi saat ini bukan lagi melawan penjajahan fisik, melainkan menjaga kedaulatan pemikiran dan keharmonisan sosial di era informasi yang tanpa sekat.

“Pancasila itu bukan sekadar warisan masa lalu yang dibaca saat upacara. Ia adalah living ideology—ideologi yang hidup. Jika kita kehilangan pegangan pada Pancasila, kita akan mudah terombang-ambing oleh tren global, hoaks, dan radikalisme yang sengaja memecah belah bangsa,” ujar Wahyudie saat diwawancarai pada Rabu (20/5).

Rekontekstualisasi Lima Sila dalam Kehidupan Modern

Wahyudie memaparkan bahwa penerapan Pancasila di tahun 2026 ini harus disesuaikan dengan konteks zaman tanpa mengubah nilai substansialnya. Ia menyoroti bagaimana setiap sila harus diterjemahkan ke dalam tindakan nyata, terutama oleh generasi muda:

  • Sila ke-1 & 2 (Religiusitas dan Kemanusiaan): Menjadi fondasi utama dalam beretika di media sosial. Toleransi tidak hanya di dunia nyata, tetapi juga dalam menghargai perbedaan pendapat di ruang digital.
  • Sila ke-3 (Persatuan Indonesia): Menolak segala bentuk narasi perpecahan (polarisasi) yang kerap muncul demi kepentingan politik atau kelompok jangka pendek.
  • Sila ke-4 & 5 (Musyawarah dan Keadilan Sosial): Memastikan bahwa pembangunan dan pengambilan kebijakan, baik di tingkat pusat maupun daerah, harus inklusif dan berorientasi pada kesejahteraan masyarakat luas, bukan segelintir golongan.

Gotong Royong Sebagai Core Value

Lebih lanjut, peraih gelar Doktor yang juga mendalami manajemen ini menekankan bahwa esensi dari Pancasila adalah gotong royong. Nilai inilah yang terbukti menyelamatkan Indonesia dari berbagai krisis besar di masa lalu.

“Dalam dunia yang semakin kompetitif dan individualis, sifat gotong royong ini mulai terkikis. Padahal, untuk membangun daerah dan bangsa yang kuat, kita butuh sinergi antargenerasi, antarsuku, dan antaragama. Kita harus kembali ke khittah itu,” tambahnya.

Di akhir penyampaiannya, Dr. Wahyudie F. Dirun mengajak seluruh lapisan masyarakat—mulai dari akademisi, pemuda, hingga pelaku komunitis—untuk menjadikan Pancasila sebagai kompas moral.

“Mari kita jadikan Hari Kebangkitan Nasional 2026 ini sebagai momentum untuk bangkit secara spiritual dan intelektual dengan berpegang teguh pada Pancasila. Ketika ideologi kita kuat, maka fondasi bangsa ini tidak akan goyah oleh badai apa pun,” pungkasnya optimis.

Related Articles

Stay Connected

0FansLike
0FollowersFollow
0SubscribersSubscribe

Latest Articles